Kamis, 25 April 2013

Rangkuman buku


Rangkuman Hakikat Dakwah Fardiyah :
Definisi Dakwah

            Dakwah, secara bahasa (etimologis) berarti jeritan, seruan, atau permohonan. Adapun menurut syara’ (istilah), maka ada beberapa definisi menurut para ahli.
            Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dakwah adalah mengajak seseorang agar beriman kepada Allah dan kepada apa yang dibawa oleh para Rasul-Nya dengan cara membenarkan apa yang mereka beritakan dan mengikuti apa yang mereka perintahkan.
            Drs. Muhammad Al-Wakil mendefinisakan, “Dakwah adalah mengumpulkan manusia dalam kebaikan dan menunjukan mereka jalan yang benar dengan cara amar ma’ruf dan nahi munkar.”
            Allah berfirman,
            “Jadilah diantara kamu sebaik-baik umat yang mengajak kepada kebaikan, menyeru kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran: 104)
            Dr. Taufiq Al-Wa’i bahwa dakwah islamiyah yaitu “mengumpulkan manusia dalam kebaikan, menunjukan mereka jalan yang benar dengan cara merealisasikan manhaj Allah dibumi dalam ucapan dan amalan, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, membimbing mereka kepada shirathal musraqim dan bersabar menghadapi ujian yang menghadang di perjalanan. ” ini sesuai dengan firman Allah,
            “Hai anakku, dirikanlah shalat, suruhlah manusia mengerjakan yang ma’rif, cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar, dan bersabarlah atas apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan.” (Luqman: 17)
            Dari definisi diatas, semuanya berimpit pada satu titik temu yakni , bahwa dakwah bukan hanya terbatas pada penjelasan dan penyampaian semata, namun juga menyentuh pada pembinaan dan takwin (pembentukan) pribadi, keluarga, dan masyarakat.
            Dakwah dihadapan para pendosa, penentang, dan pelaku kemaksiatan harus ditekankan pada ta’rif (pengenalan) dan tabligh. Sedangkan dihadapan orang-orang yang relatif masih mempunyai fitrah yang bersih, maka dakwah dapat ditekankan pada pembinaan dan takwin.
            Firman Allah,
            “Kewajibanmu tiada lain hanyalah menyampaikan risalah.” (Asy-Syura: 48)





Dalil Syar’i Tentang Dakwah

Dakwah ilallah adalah amalan yang masyru’ (disyariatkan) dan masuk kategori fardhu. Tidak boleh diabaikan, diacuhkan atau dikurangi bobot kewajibannya. Hal ini disebabkan:
1.     Terdapat banyak perintah dalam Al-Quran dan Sunnah baik secara langsung maupun tidak langsung, baik dengan jelas maupun dengan isyarat.
Diantara perintah yang langsung adalah firman Allah, “Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat menyeru kepada kebaikan, mengajak kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar.” (Ali-Imran: 104)
Begitu pula abda Rasul saw ;
“Sampaikanlah dariku meskipun satu ayat.” (HR. Bukhari)
Semua ayat-ayat dan hadits-hadits di atas semuanya berupa perintah. Kalimat perintah itu menunjukkan hal yang wajib dan izlam (harus dilaksanakan) selama tidak ada qarinah (dalil lain) yang bisa mengalihkan hukum wajib tadi kepada hukum yang lain.
2.    Kedudukan risalah Muhammad saw. Sebagai khatamul anbiya’wal mursalin sampai hari kiamat nanti. Hal ini sesuai dengan firman Allah,
‘’Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqon kepada hamba – Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (Al-Furqon:1)
Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (Al-Anbiya’ :107)
Seluruh manusia menjadi sasaran pembicaraan untuk merealisasikan risalah Rasulullah tadi dan mengikuti apa yang diturunkan kepada beliau. ’Alamiyatur risalah (risalah yang bersifat umum) harus direalisasikan sampai hari kiamat.
Dalam kehidupan beliau, Rasulullah saw telah menjalankan misi risalah ini dengan segala uslub dan dan wasilah yang memungkinkan untuk diterapkan, baik dengan kata-kata (lisan dan tulisan), maupun tindakan, karena beliau dalam hal ini adalah sebagai uswah dan qudwah bagi siapa saja yang mengharap ridha Allah dan perjumpaan dengan-Nya di hari akhir. Misi ini harus senantiasa dilaksanakan karena semakin lama zaman akan semakin menampakkan keburukannya, keruksakan dan keburukan itu harus dihadapi dengan peran aktif untuk menghapuskannya atau minimal membatasi geraknya, sehingga tidak merambah lebih luas lagi kepada yang lain.
3.    Adanya ancaman yang pedih bagi siapa saja yang menyembunyikan ilmu dan tidak mengamalkannya.
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan yang jelas dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknat oleh Allah dan oleh mereka yang dapat melaknati.” (Al-Baqarah : 159)
Suatu upaya agar terhindar dari ancaman yang maha berat ini adalah dengan melakukan kewajiban dakwah ilallah.
4.    Tamkin (kemapanan) bagi agama Allah di bumi.
Merealisasikan ketenangan di dunia dan akhirat dalam rangka memelihara hak kehidupan bagi manusia adalah suatu kewajiabn yang harus kita tegakkan. Dan dakwah adalah jalan satu-satunya untuk mewujudkan hal itu, maka dakwah jadi wajib hukumnya. Karena sebagaimana kaidah ushul fiqih, bahwa: “Sesuatu, yang tidak sempurna sebuah kewajiban kecuali dengan adanya sesuatu itu, maka sesuatu itu pun wajib adanya.”
5.    Adanya ijma’ (kesepakatan)
Adanya ijma’ sejak masa sahabat sampai sekarang tentang wajibnya dakwah ilallah, meski kini kemauan dan keinginan untuk melaksanakan kewajiban itu melemah dan mengendor.

Metode dan Sarana Dakwah Ilallah

Uslub (metode) dan wasalah (sarana) dakwah ilallah mencakup seluruh aktivitas kehidupan, karena kaum muslimin dengan kemampuan yang ada pada dirinya, bisa menjadikan setiap amal yang diperbuat dan setiap aktivitas yang dilaksanakan sebagai jalan untuk berdakwah menunjukkan manusia ke jalan yang lurus.
            Kaum muslimin generasi awal berdakwah dan mengajak manusia kedalam pangkuan Islam dengan cara memanfaatkan profesi keseharian mereka. Setiap muslim, yang dengn ketekunan dan profesionalisme dalam amalnya sampai derajat kekuatan, saat itu ia akan bisa menjadi da’i yang muatsir (yang berpengaruh) terhadap oranglain.

Tanggung Jawab Dakwah Ilallah

            Dakwah ilallah merupakan kewajiban yang disyariatkan dan menjadi mas’uliyah (tanggung jawab) yang harus dipikul kaum muslimin seluruhnya. Artinya, setiap muslin dituntut untuk berdakwah sesuai kemampuan dan peluang yang dimilikinya. Tak seorang pun bebas tugas dari kewajiabn ini. Firman Allah,
            “Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali-Imran : 104)
            Syaikh Muhammad Abduh berkata, “Ringkasnya menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar adalah fardhu yang diwajibkan kepada setiap muslim, sebagaimana ditunjukkan oleh makna zhair ayat tersebut (Ali-Imran :104).”
            Kaum muslimin pada periode awal, khususnya pada zaman Abu Bakar dan Umar, telah merealisasikan kewajiban ini. Uslub dan wasilah dakwah tidak hanya terbatas pada kata, namun juga perilaku dan perbuatan maka tujuan akhir dari dakwah haruslah itqan dalam uslub dan wasilahnya sehingga terwujud bashirah dan hikmah yang merupakan kunci keberhasilan dan kesuksesan dakwah.

Fungsi dan Buah Dakwah Ilallah

            Dakwah mempunyai kegunaan dan tsamarah (buah) di dunia dan di akhirat, yaitu :
1.     Pertama, mendatangkan pertolongan dan bantuan rabbani dalam perjuangan melawan kebatilan dan jahiliyah.
2.    Kedua, menggugah dan membangunkan manusia dari tidur panjangnya menuju kebangkitan hakiki yang agung bersama Islam.
3.    Ketiga, menegakkan hujah kepada orang-orang yang terus-menerus berbuat salah.
4.    Keempat, membentuk opini umum yang benar dan selamat
5.    Kelima, dakwah akan membuat baiknya perilaku dan istiqamahnya akhlah kita.
6.    Keenam, dengan dakwah, kita akan memperoleh keberuntungan berupa jannah dan keridhaan Allah di akhirat.
7.    Ketujuh, dengan dakwah kita akan terlepas dari siksa di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, ditinggalkannya kewajiabn dakwah akan berakibat tersebarnya kejelekan dan kerusakan yang akan merambah seluruh wilayah kehidupan.
8.    Kedelapan, dakwah adalah asas pembinaan syakhshiyah islamiyah (kepribadian islami) yang paripurna dalam membangun unsur-unsur kebaikan dan menolak unsur-unsur kejelekan serta syakhshiyah yang siap menerima pertolongan, dukungan, dan kemenangan dari Allah.
9.    Kesembilan, dakwah adalah jalan menuju wihdatul ummah, karena dakwah berusaha menanamkan nilai-nilai ukhuwah, kebersamaan, ta’awun dalam kebaikan dan taqwa serta saling memperhatikan antara kaum muslimin.










Rangkuman BAB 1
Definisi dan Bentuk-Bentuk Dakwah Fardiyah
               
            Definisi yang sederhana dari dakwah fardiyah adalah “konsentrasi dengan dakwah atau berbicara dengan mad’u secara tatap muka atau dengan sekelompok kecil dari manusia yang mempunyai ciri-ciri dan sifat-sifat khusus.” Adapun bentuk atau macam dari dakwah fardiyah bisa dibagi menjadi dua, yaitu:
            Pertama, dakwah fardiyah yang muncul dari individu yang sudah berintima’ (bergabung) dengan jamaah. Maksudnya, setiap individu yang ada daalm suatu jamaah dalam kapasitasnya sebagai da’i, melaksanakan kewajiban berupa interaksi yang intens dengan tendensitertentu dengan orang-orang baru, dalam upaya menarik mereka kepada fikrah islamiyah, dan selanjutnya menarik mereka untuk bergerak bersama jamaah dalam aktivitas amal islami.
            Kedua, dakwah fardiyah yang muncul dari individu yang belum berintima’ kepada suatu jamaah. Seseorang muslim dengan kapasitasnys sebagai bagian dari ummah, melaksanakan kewajiban dakwah ilallah dengan jalan khotbah, ceramah, tulisan-tulisan, dan makalah, yang aktivitas ini tidak mempunyai sanad jama’i (kaitan jamaan) dan organisasi atau tatanan haraki.

Dalil Syar’i Dakwah Fardiyah

            Dakwah fardiyah dengan pengertian seperti diatas adalah hal yang masyru’ (disyariatkan) dengan dalil-dalil sebagai berikut:
            Pertama,  sesuai dengan firman Allah dalam kitab-Nya dan sesuai dengan sabda Rasul dalam sunahnya. Allah berfirman,
            “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shalih dan berkata, “sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’” (Fushilat: 33)
            Kedua, para nabi memulai tugas dakwah mereka dengan dakwah fardiyah. Dengan petunjuk para nabi itulah Nabi berqudwah, sebagaimana firman-Nya,
            “Mereka itu adalah orang-orang yang diberi hidayah oleh Allah, maka berqudwahlah engkau (Muhammad) dengan hidayah mereka.” (Al-An’am: 90)







Rangkuman BAB 2
Karakteristik, Keistimewaan, dan Pengaruh Dakwah Fardiyah

          Dakwah fardiyah adalah dakwah yang memiliki karakteristik sebagai berikut,
1.     Adanya mukhathabah (berbincang-bincang) dan muwajahah (tatap muka) dengan mad’u secara dekat dan intens.
2.    Istimrariyah. Terganya keberlanjutan dakwah, khususnya di saat-saat sulit dalam kesempitan.
3.    Berulang-ulang. Dapat dilakukan setiap saat tanpa menunggu momen tertentu. Mungkin dalam sehari bisa dilakukan beberapa kali.
4.    Mudah, bisa dilakukan setiap orang. Tidak banyak menyita energi dan tidak memerlukan adanya keterampilan khusus.
5.    Bisa terhindar dan tertutupi dari pandangan manusia, terutams musuh.
6.    Dapat menghasilkan asas-asas dan pilar-pilar amal.
7.    Dakwah fardiyah dapat membantu mengungkap potensi dan bakat yang terpendam.
8.    Dapat merealisasikan tarabuth (keterikatan yang erat) dan ta’awun (saling kerja sama) antara da’i dan mad’u.
9.    Sang da’i akan bisa menggali pengalaman dan pembiasaan dalam aktivitas dakwah, dan itu merupakan hal yang mutlak dibutuhkan.
10.  Bisa mendorong pelakunya untuk menambah bekal dan pengalaman, sehingga lebih mapan dalam aspek operasionalnya.
11.  Bisa mengarahka sang da’i untuk bermujahadah, karena adanya tuntunan untuk senantiasa menjadi uswah dan qudwah bagi sang mad’u.
12.  Dapat memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi mad’u untuk menanyakan segala sesuatu yang berkenaan dengan keislaman dirinya.
Sedangkan kekurangan-kekurangan yang mungkin timbul dalam aktivitas dakwah fardiyah adalah sebagai berikut:
1.     Dakwah fardiyah relatif menyita banyak tenaga dari banyak personel da’i.
2.    Pada kondisi tertentu, jumlah mad’u yang mau hanya sedikit.
3.    Seorang mad’u dalam dakwah fardiyah karena kefardiyahannya, barangkali bisa terkena fufur, bosan, dan jenuh.
Adapun mengenai keutamaan dakwah fardiyah, yaitu :
1.     Bisa sering kali dilakukan. Mungkin dalam sehari bisa berkali-kali.
2.    Dakwah fardiyah bisa dilakukan dengan spontan, tidak membutuhkan energi dan banyak persiapan.
3.    Dakwah fardiyah itu mudah, tidak butuh persiapan khusus dan formal yang matang.
4.    Dakwah fardiyah itu gampang. Setiap orang atau setiap mukmin bisa bergabung didalamnya, kendati dia tidak begitu pandai dan ahli.
5.    Dakwah fardiyah sifatnya tertutup dan terjaga.
6.    Di dalam aktivitas dakwah fardiyah ada media untuk mengungkapkan ide dan perasaan.
7.    Dalam dakwah fardiyah ada kesempatan berbicara bebas.
8.    Dalam dakwah fardiyah ada kesinambungan, karena waktu tersedia untuk berinteraksi dengan umat tidak terbatas.
9.    Di dalam dakwah fardiyah ada barakah nubuwah (kenabian) karena para nabi terdahulu senantiasa memulai dakwah mereka dengan dakwah fardiyah.

Pengaruh Dakwah Fardiyah

            Ada kemungkinan pada tahap-tahap awal dakwah fardiyah tidak begitu menampakkan pengaruh dan hasil. Tanpa mengecilkan peran dakwah ammah, dakwah fardiyah akan tetap menjadi asas keberhasilan untuk jangka panjang.
            Jika demikian, alangkah besarnya peran dakwah fardiyah dalam memancangkan asas yang menjadi tumpuan bangunan, kendati tidak terlihat karena terpendam dalam tanah. Sedang pengaruhnya adalah kemegahan bangunan itu sendiri. Maka tidak mungkin salah satu akan terpisah dari yang lain.

Rangkuman BAB 3
Spesifikasi dan Klasifikasi Mad’u Dalam Dakwah Fardiyah
                       
            Berdakwah kepada orang muslim yang belum sempurna Islamnya tentu harus didahulukan daripada berdakwah kepada nonmuslim.
            Berdakwah kepada sanak kerabat dan tetangga tentunya lebih didahulukan daripada berdakwah kepada orang-orang yang jauh. Kemungkinan mereka akan marah kalau sang da’i berdakwah kepada orang yang jauh, sementara yang di dekatnya terbengkalai.
            Berdakwah kepada sanak kerabat ini pun dalam rangka berqudwah dan beruswah kepada Rasulullah saw. Beliau memulai dakwah dengan perintah Allah yang menyuruh memberi peringatan kepada orang-orang terdekat.
            Berdakwah kepada yang muda harus didahulukan daripada yang tua, karena yang muda jiwanya belum terbentuk oleh fikrah atau perilaku tertentu.
            Berdakwah kepada orang yang tawadhu’ (rendah hati) harus didahulukan daripada berdakwah kepada orang yang sombong. Sifat tawadhu’ merupakan tanda adanya peluang besar untuk diterimanya seruan dakwah dan haq serta beramal dengannya. Sedangkan takabur adalah tanda pelecehan terhadap Al-Haq dan mudah meremehkan manusia.
            Berdakwah kepada yang mutsaqqaf (berwawasan luas) harus lebih didahulukan daripada berdakwah kepada yang sempit wawasannya.
            Berdakwah kepada yang belum intima’ (bergabung) kepada kelompok tertentu harus didahulukan daripada yang sudah berintima’. Karena mereka yang belum berintima’ dalam hal ini berada di samping jalan diantara madzhab-madzhab dan kelompok-kelompok. Sedangkan yang telah berintima’ maka saat itu iatelah memilih satu madzhab tertentu.
            Berdakwah kepada teman sekerja dan seprofesi harus didahulukan daripada berdakwah kepada yang lainnya. Hal ini karena biasanya antarkaryawan dalam sebuah profesi tertentu itu terjalin ta’awun (kerja sama) di antara mereka.
            Dakwah kepada orang yang punya karisma dan wibawa di hadapan kaumnya tentunya lebih didahulukan daripada kepada yang tidak punya pengaruh dan wibawa.
            Demikianlah, seorang da’i yang brilian akan memilih untuk objek dakwahnya lahan yang lebih penting dan lebih utama yang tidak banyak menyita waktu dan yang bisa menyesuaikan diri dengan tabiat perjalanan dakwah yang dialaminya.

Rangkuman BAB 4
Akhlak Dalam Dakwah Fardiyah

            Pelaku dakwah fardiyah hendaknya memiliki sifat-sifat atau akhlak sebagai berikut:
1.     Uswah dan Qudwah
Makna uswah dan qudwah adalah keteladanan. Sesungguhnya pribadi seorang da’i dengan segala perilakunya harus mencerminkan gambaran profesional yang jelas dan benar tentang segala sesuatu yang didakwahkannya dan apa yang ingin dipahamkan kepada mad’unya.
2.    Ikhlas
Semua yang keluar dari seorang da’i baik berupa ucapan dan perbuatan harus diniatkan untuk mengharap ridha Allah sebagai sebaik-baik balasan, tanpa menghiraukan apakah mendapat ghanimah, kedudukan, jabatan, kemajuan atau kemunduran.
3.    Sabar dan Ihtisab
Seorang da’i harus memperkokoh jiwanya di dalam mengembban dan menghadapi apa saja yang akan menimpanya di jalan Allah. Ia harus bersabar dan ihtisab (mengharap ridha Allah).
4.    Optimis dan Tsiqah Kepada Allah
Seorang da’i tidak boleh merasa kehilangan harapan dari salah seorang mad’unya. Pada setiap orang pasti ada kebaikan yang dimilikinya. Seorang da’i mendapat taufiq dari Allah akan berusaha menunjukkan kunci kebaikan ini.
5.    Pemahaman yang Mendalam
Seorang da’i harus sempurna dalam derajat keislamannya dan paham betul akan tugasnya dalam kehidupan. Dia harus paham mad’u mana yang harus didahulukan dan mana yang harus diakhirkan.
6.    Pengorbanan
Seorang da’i harus mau berkorban dengan segala sesuatu yang dimilikinya: jiwa, raga, waktu, ilmu, harta, dan segala yang ada apanya, sampai ia berhasil mendapatkan tsiqah (kepercayaan) dari para mad’u.
7.    Antisipasif Atas Kegagalan Dakwah
Seorang da’i harus mengakrabi mad’u dengan penuh kasih. Dalam benaknya harus ada di hadapannya akan menyambut seruan dakwahnya. Hal ini agar tidak menyesal manakala gagal.
8.    Berinteraksi Dengan Lebih Dari Satu Orang
Maksudnya, jangan sampai seorang da’i dalam dakwah fardiyah menghabiskan waktu dan tenaganya hanya untuk berinteraksi dengan seorng mad’u saja. Akan tetapi seorang da’i harus menjadikan amalnya untuk berinteraksi dengan lebih dari seorang.
9.    Penuh Perhitungan Dan Tidak Isti’jal (Tergesa-Gesa)
Seorang da’i harus lapang dada dalam berinteraksi dengan mad’u, sampai ia berhasil mengukur kedalaman pribadinya dan mematangkan kualitasnya.
10.  Cerdas Dan Piawai
Seorang da’i harus sensitif dan cerdas. Harus jeli menangkap isyarat dan gejala yang sekecil-kecilnya sehingga cepat pula dalam merumuskan antisipasinya.
11.  Lemah Lembut
Sang da’i harus berpenampilan lebut dan kalem serta tidak menunjukkan watak keras dan kasar.
12.  Menjaga hak-Hak Ukhuwah Islamiyah
Seorang da’i harus termasuk orang yang memelihara dan menjaga hak-hak ukhuwah islamiyah dengan mempersembahkan jiwa, harta, dan segala dipunyainya.
13.  Berharakah Sesuai Khithah
Seorang da’i harus mempunyai khithah (garis perjuangan) yang jelas maksud dan tujuannya, uslub-uslubnya dan juga wasilah yang digunakan. Bahkan harus ada gambaran yang jelas tentang berbagai alternatif pengganti manakala memenuhi kegagalan pada wasilah tertentu.
14.  Menjadikan Dakwah Sebagai Kesibuakn Utama
Seorang da’i harus memenuhi seluruh relung jiwanya dengan dakwah. Ia tidak berdiri, duduk, bergerak, atau berhenti, berbicara atau diam kecuali dalam kerangka dakwah.
15.  Berlepas Diri Dari Segala Sesuatu Kecuali Daya Dan Kekuatan Allah
Seorang da’i harus merasa dirinya lemah di hadapan Allah, bertajarrud dari segala sesuatu kecuali dengan daya dan kekuatan Allah, agar Allah membantunya dengan kekuatan, dukungan, dan kemenangan.

Rangkuman BAB 5
Tahapan Dan Metode Dakwah Fardiyah

            Ada beberapa marahil (tahapan) dalam dakwah fardiyah. Inilah tahapan-tahapan tersebut beserta karakteristik dan uslub yang ada didalamnya.
v  Pertama : Ta’aruf
                        Ta’aruf adalah upaya untuk memahami secara mendalam tentang kondisi mad’u, dari segi kejiwaan, pemikiran, sosial-ekonomi serta suluk (moral perilaku). Karakteristik dari tahapan ini adalah :
            Pertama, menghormati dan memberikan kesan pada mad’u bahwa ia adalah pusat perhatian dan pengendalian.
            Kedua, untuk sementara menjauhi pembicaraan dan perbincangan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah dakwah.
            Ketiga, berusaha menggali dan memunculkan apa saja yang tersembunyi di balik jiwa sang mad’u berikut segala sesuatu yang meliputinya, sekaligus mencari metode dan saran yang memungkinkan untuk bisa diterapkan.
            Keempat, mengikuti perkembangan dan keadaan mad’u dengan seksama, baik dari keluarganya, anaknya, dirumah, di masjid, di jalan atau di medan kerja.
            Perbincangan singkat
            Perbincangan singkat adalah berta’aruf dengan nama dan keturunan sang mad’u, asal daerahnya, profesinya, dan tempat tinggalnya kalu memungkinkan. Perkenalan awal ini akan membantu untuk meneruskan pembicaraan atau menghentikannya. Juga bisa membantu untuk menentukan jenis pembicaraan kalau seandainya diteruskan.
            Saling Berkunjung
            Tujuan saling berkunjung adalah untuk mewujudkan hubungan yang mesra dengan mad’u dan berma’rifah dengan kondisi kesehariannya. Dengan begitu sang da’i menanyakan keadaannya dan bantuan apa yang kira-kira bisa diberikan, atau berusaha untuk membantu dan memecahkan problem yang dihadapi.


v  Kedua : Meluruskan pemahaman dan Membentuk Kecenderungan
            Tibalah tahap kedua, yakni meluruskan pemahaman dan membentuk kecenderungan. Kondisi mad’u biasanya tidak akan lepas dari satu di antara beberapa keadaan berikut ini:
            Pertama, ada yang masih awam dengan Islam secara keseluruhan atau sebagian, tetapi dia tidak banyak mendebat dan sombong. Strategi yang bisa ditempuh adalah :
a.    Hiwar fardi (bincang-bincang empat mata) yang kontinu tentang hakikat dan dasar-dasar Islam serta perannya dalam mengatur kehidupan manusia.
b.    Mengadakan pertemuan rutin yang terarah, yang diisi dengan taushiyah dan penugasan yang berkaitan dengan materi di atas.
c.    Menyuruh untuk membaca buku-buku yang berkisar tentang masalah ini.
d.    Hidup dalam suasana yang islami dengan penuh kejelian dan kebaikan pemahaman tentang Islam atau paling tidak memberikan perhatian kepada syi’ar-syi’ar yang tengah beraksi di pentas amal islami.

Kedua, ada yang mengerti tentang islam, baik secara keseluruhan maupun sebagian, namun ma’rifahnya tentang Islam menyeleweng dan tidak murni. Cara menyelesaikannya adalah sebagai berikut:
a.    Mengadakan hiwar fardi tentang syubhat dan kebohongan-kebohongan tadi serta bagaimana sikap Islam di dalam menghadapinya.
b.    Menyuruh untuk menelaah buku-buku yang berkenaan dengan masalahnya.

Ketiga, ada yang paham tentang islam, namun parsial dalam merealisasikan ajaran dan mendakwahkannya. Cara-cara yang dapat ditempuh sebagai berikut:
a.    Mengadakan hiwar fardi  yang mustamir (secara kontinu) tentang penyerahan totalitas permasalahan hanya kepada Allah saja, terutama dalam masalah rezeki dan ajal.
b.    Mengadakan pertemuan terbuka dan terarah dengan cara menyuruh salah seorang da’i yang telah berpengalaman untuk memberikan materi berkala tentang Al-Qur’an dan hadits, khususnya yang berisi cerita-cerita.
c.    Berusaha untuk mengambil pelajaran dari beberapa kejadian dan peristiwa sehari-hari yang berulang-ulang.
Apabila dilakukan secara cermat dan sungguh-sungguh dapat menghilangkan rasa takut dan menghilangkannya dari dalam jiwa.

Keempat, ada yang paham tentang Islam secara keseluruhan dan mengaplikasikannya dalam jiwa, namun ia terjebak dalam kesendirian dan terjatuh dari jamaah. Harus dijelaskan pula pentingnya samal jama’i dan bahaya menyendiri dalam beramal, dengan cara-cara sebagai berikut:
a.    Mengadakan hiwar fardi  yang mustamir  tentang dakwah, amal jama’i dan bahaya ‘uzlah.
b.    Mengadakan pertemuan terbuka, dengan menyuruh salang seorang da’i yang telah mapan untuk memberikan materi berkala tentang dakwah ilallah, amal jama’i dan bahaya kesendirian dan ‘uzlah (infiradi).
c.    Membaca kitab-kitab yang berkenaan dengan masalah.
d.    Da’i juga harus menjelaskan tentang kondisi pahit yang di alami dunia Islam, yang disebabkan karena keteledoran umat dalam berdakwah.

Kelima, ada yang paham tentang Islam secara integral dan menyeluruh serta merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Keenam, ada yang paham tentang islam secara menyeluruh, merealisasikannya, dan mendakwahkannya dalam sebuah tatanan jamaah. Sehingga pada hasil akhir akan didapat jamaah yang betul-betul sesuai dengan yang dimaksud. Caranya sebagai berikut:
a.    Mengadakan hiwar fardi yang mustamir tentang jamaah-jamaah Islmiyah yang ada di pentas amal islami.
b.    Mengadakan pertemuan terbuka dan terarah, dengan cara menampilkan salah seorang da’i yang memberikan materi jamaah Islamiyah yang idela.
c.    Menyuruh untuk menelaah buku-buku yang berkisar tentang masah tersebut.
d.    Memantau (mu’ayasyah) dengan seksama dari dekat tentang jamaah- jamaah ini di dalam melaksanakan kegiatan umum, meski dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Ketujuh, ada yang paham tentang Islam secara utuh dan beriltizam dengannya. Banyak tuduhan yang diarahkan kepadanya. Dalam kondisi seperti ini perbincangan harus diarahkan untuk membalas tuduhan-tuduhan dan meluruskan kesalahpahaman dengan cara sebagai berikut:
a.    Mengadakan hiwar fardi tentang syubuhat-syubuhat dan tasaa-ulat (kesalahpahaman).
b.    Menyuruh untuk menelaah buku-buku yang menjelaskan prinsip-prinsip jamaah ini.
c.    Mendengarkan dengan seksama jalsah mughlaqah (pertemuan terbatas) yang disampaikan oleh para syaikh.
v  Ketiga: Menguji Kebenaran Pemahaman Dan Kejujuran Loyalitas
Pada tahap ini harus dilakukan realisasi dari siratul fahmi dan shidqul wala’. Caranya adalah dengan mengikuti secara seksama perkembangan mad’u dengan cara mu’ayasyah (bergaul), mushahabah (bersahabat), dan tajribah (mengambil pengalaman) pada setiap medan kehidupan dan setiap aktivitas.
a.    Di masjid
b.    Di rumah, sebagaimana firman Allah:
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (At-Tahrim: 6)
c.    Di saat-saat sulit
d.    Di tengah-tengah pembicaraan dan di saat-saat diam.
e.    Dalam hal makan dan minum
f.    Dalam semua bentuk muamalah, baik yang berhubungan dengan harta atau yang selainnya.
g.    Dalam semua kesempatan, ketika safar (bepergian), ketika mukim, ketika sendiri, dan ketika dalam suasana keramaian.

Rangkuman BAB 6:
Model Dakwah Fardiyah Pada Zaman Nabi

1.  Dakwah Nabi SAW Kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq
“Diriwayatkan oleh Abul Hasan Ath-Athrablis dari Aisyah ra. Mengatakan : suatu ketika Abu Bakar keluar ingin menemui Rasulullah saw. Beliau adalah teman Rasulullah semasa jahiliyah. Ketika bertemu Rasulullah, beliau mengatakan ‘ wahai Abul Qasim (julukan untuk Rasulullah)! Saya datangi majelis-majelis kaummu, mereka menuduhmu menjelak-jelekkan bapak-bapak dan ibu-ibu mereka.’ Rasulullah mengatakan, ‘ Sesungguhnya aku adalah utusan Allah, aku mengajakmu ke jalan Allah.’ Setelah selesai berbicara, Abu Bakar langsung masuk Islam. Rasulullah kemudian meninggalkannya dengan perasaan sangat gembira seolah tiada yang lebih menggembirakan daripada masuk Islamnya Abu Bakar.”
Di antara sebab dari cepatya Abu Bakar didalam menyambut seruan Islam, dalam pandangan Abu Bakar, tidak mungkin Muhammad berdusta terhadap sesamanya karena Abu Bakar tahu persis kejujuran, amanah, kebaikan perangai, dan kemuliaan akhlak beliau. Oleh karena itu, dengan hanya menyebutkan bahwa beliau adalah utusan Allah, Abu Bakar langsung membenarkannya tanpa ragu-ragu.

2.  Dakwah Nabi SAW Kepada Husain (Ayah Imran)
Dikeluarkan oleh Ibnu Huzaimah dari Imran bin Khlaid bin Thaliq bin Muhammad bin Imran bin Husain, mengatakan, “Bapak saya bercerita kepada saya, yang ceritanya itu dari ayahnya dari kakeknya, bahwa sesungguhnya orang-orang Quraisy datang menamui Husain. Mereka sangat menghormatinya. Mereka berkata, “Tolong tegur orang itu (Rasulullah), karena dia telah menyebut dan mencela bapak-bapak kita” Maka bersama Husain mereka mendatangi Rasulullah, sampai akhirnya mereka duduk di dekat pintu rumah Rasulullah.”
Rasulullah pun mencoba untuk berbincang-bincang dengannya dan menasehatinya hingga sampai pada satu titik Husain masuk Islam, secepat ini Husaen masuk Islam barangkali karena kebersihan fitrahnya, dan kebaikan budinya serta kekuatan/kehebatan argumentasi Rasulullah.

3.  Dakwah Nabi SAW Kepada Ady Bin Hatim
Dari Ady bin hatim berkata, “Rombongan Rasulullah datang, sementara saya tengah berasa di Aqrab (kampung pelancong dekat Damaskus). Mereka kemudia mengambil bibiku dan orang-orang lainnya. Maka tatkala rombongan Rasulullah datang bersama orang-orang tadi kepada Rasulullah, beliau berkata, “bentuk shaf untuknya (Ady).” Bibi berkata, ‘ Wahai Rasulullah, saya mempunyai utusan (wakil bicara), saya sendiri sudah tidak punya anak. Usia saya telah senja, apa yang akan bisa saya lakukan? Berikanlah karunia kepadaku niscaya Allah akan memberi anugerah kepadamu.’ Rasulullah bertanya, ‘ Siapa utusanmu itu? Dia menjawab, ‘Ady bin Hatim,’ Rasulullah berkata lagi ‘ Diakah yang lari dari Allah dan Rasul-Nya? Dia (sang bibi) memohon lagi, ‘Karuniakanlah kepadaku (agar Ady masuk Islam).’”
Setelah bibinya mengabarkan apa yang dibicarakannya tadi kepada Ady. Ady berkata, Kemudian aku masuk Islam karena kata-kata itu. Aku melihat Rasulullah wajahnya berseri-seri.” Kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya yang terkutuk adalah orang-orang Yahudi dan yang tersesat adalah orang-orang Nasrani.”
Sementara pada riwayat lain, Ady bin Hatim berkata, “Ketika diutusnya Rasulullah saw, sampai ka telinga saya, saya sangat membencinya. Maka saya keluar sampai saya datang menemui Kaisar Romawi”.
Rasulullah berkata kepadaku, “Wahai Ady, masuk Islamlah engkau, niscaya akan selamat.” Sampai Rasulullah mengulangnya sampai tiga kali. Ady menjawab “Aku telah memeluk agama.” Rasulullah berkata, “aku lebih tau agamamu daripada engkau, agamamu Rakusiyah (sebuah agama sinkritisme antara Nasrani dan penyembah bintah).”
Rasulullah terus berbincang dengannya dan menasehati tentang agama yang dipeluk oleh Ady bin Hatim hingga yang mendorong Ady bin Hatim memeluk Islam dengan bentuk dan cara seperti ini, barangkali karena kebersihan fitrah, kematangan pemkirannya di satu sisi, serta kekuatan hujah dan argumentasi Rasul serta cara beliau menunjukkan jalan ke alam pikiran dan kalbu Ady bin Hatim ra di sisi lain.



4.  Dakwah Nabi SAW Kepada Thufail Bin Amru Ad-Dausiy
Ibnu Ishaq menyebutkan, adalah Rasulullah saw, dikenal oleh kaumnya senang memberi nasihat dan mengajak mereka kepada keselamatan hidup. Inilah yang menjadikan orang-orang Quraisy selalu waspada dan berpesan kepada orang-orang yang datang ke tempat mereka, agar tidak memperhatikan Muhammad.
Thufail adalah orang bangswan dan juga penyair ulung. Mereka berkata kepada thufail, “Wahai Thufail, kau telah mendatangi negeri kami, sedang orang laki-laki (Muhammad) yang berada di tenagh-tengah kita saat ini telah menyesatkan kita dan memporak-porakan jamaah dan keutuhan kita. Perkataannya bagai sihir yang bisa memecah-belah antara seorang anaknya dan ayahnya, seseorang dengan saudaranya, dan seorang suami dengan istrinya.” Thufail berkata, “Demi Allah, mereka terus-menerurs berkata begitu, hingga saat aku ke mesjid dan aku selalu menyumbat telinga saya dengan kapas agar saya tidak mendengar ucapannya.”
Rasulullah tengah shalat di samping Ka’bah, dan saya kemudia berdiri didekatnya, kalau seandainya baik akan aku terima dan seandainya buruk aku akan bisa menolaknya, bukankah saya seorang penyair ulung yang tidak khawatir untuk bisa membedakan perkataan yang baik atau yang buruk.
Hingga sampai Rasulullah ke rumah beliau dan Thufail membuntutinya di belakang, kemudian dirumahnya Rasulullah membaca Al-Qur’an dan menjelaskan Islam kepada Thufail. “Demi Allah aku belum pernah mendengar perkataan sebagus ini dan tidak ada perkara yang lebih baik darinya.”
Thufail berkata lagi, “Kemudian aku masuk Islam dan bersyahadat dengan syahadatul haq. Aku berkata ‘Wahai, Nabi Allah! Saya ini adalah orang yang ditaati kaumku dan saya akan segera kembali kepada mereka dan sayapun akan mengajak mereka agar mau memeluk Islam.”

5.  Dakwah Mu’adz Bin Jabal Kepada Amru Bin Al-Jamuh
Ibnu Ishaq menyebutkan, “Ketika kamu Anshar kembali ke Madinah setelah mereka berbai’at kepada Rasulullah saw. Islam mulai muncul di sana. Sementara masyarakat warga Madinah masih memeluk sisa-sisa agama dari ahli syirik (agama peganisme), termasuk di antaranya Amru bin Al-Jamuh. Anaknya bernama Mu’adz telah masuk Islam dan berbai’at kepada Rasulullah.”
Amru bin Jamuh membuat arca di rumahnya dari kayu yang diberi nama ‘Mnat’ sebagaimana bangsawan Arab menjadikannya sebagai Tuhan. Seperti yang sudah, Amru bin Jamuh mengambil patung tadi, membersihkannya, dan ia memberinya wewangian. Kemudian kali ini ia datang membawa pedang dan menggantungkannya dileher patung tadi.
Amru bin Jamuh pun tertidur dan ketika bangun, Amru bin Jamuh kebingungan karena patung tadi hilang dan tidak ada ditempat semula. Ia kemudian mencarinya. Ia temukan patung itu di sebuah sumur yang ternyata terikat dengan bangkai anjing. Ketika ia melihat dan ia renungkan dalam-dalam tentang kejadian ini, serta siapa-siapa yang masuk Islam, ia pun akhirnya memeuk Islam dan menjadi pemeluk setia.
Barangkali sebab masuk Islamnya Amru bin Jamuh selain setelah fadhilah Allah tentunya adalah karena strategi jitu yang dilakukan oleh Mu’adz bin Jabal dan Mua’dz anaknya. Mereka menjelaskan dalam bentuk realistis operasional (tindakan nyata) bahwa apa yang disembah selain Allah itu tidak akan bisa mendatangkan bahaya, memberi manfaat, kehidupan, kematian, dan juga tidak akan bisa memberi kebangkitan bagi dirinya apalagi bagi orang lain.

6.  Dakwah Abdullah Bin Rawahah Kepada Abu Darda
Al Waqidy berkata, “Sebagaimana disebutka, bahwa Abu Darda’ adalah orang yang terakhir masuk Islam diantara keluarganya yang lain. Sebelum itu ia masih terlalu akrab dengan patungnya. Karena sangat akrabnya sampai ia menaruh saputangan diatasnya. Abdullah bin Rawahah mendatanginya untuk mengajak masuk Islam, namun ditolaknya. Kemudian ia mendatanginya sekali lagi. Abdullah bin Rawahah adalah sahabat karib Abu Darda’ semasa jahiliyah. Ketika melihat Abu Darda’ ke luar rumah, Abdullah bin Rawahah segera memasuki rumah. Disana ada istrinya yang tengah menyisir rambut.”
Abdullah bin Rawahah terus menunggu kedatangan Abu Darda, dan Abdullah bin Rawahah merusah patung Abu Darda’. Ketika Abu Darda’ datang dan memasuki rumahnya, ia lihat istrnya duduk bersimpuh didekat patung yang hancur tadi. Ia bertanya, “Apa yang terjadi?” Istrinya menjawab, “Baru saja saudaramu Abdullah bin Rawahah masuk rumah ini dan berbuat sesuatu sebagaimana yang kau lihat sekarang ini.” Abu Darda’ marah sekali, namun ia terus merenung seraya bergumam, ‘Seandainya patung ini mempunyai kekuatan, tentu ia akan bisa membeka dirinya.’ Kemudian ia keluar rumah menemui Rasulullah bersama Abdullah bin Rawahah untuk menyatakan keislamannya.
Barangkali sebab langsung dari masuk Islamnya Abu Darda’ ini adalah karena kecerdikan Abdullah bin Rawahah di dalam mendefinisikan tuhan patung dari kayu dengan segala fenomena kekuatan yang tidak mungkin untuk dimilikinya.

7.    Dakwah Ummu Sulaim Kepada Abu-Thalhah Al-Anshari
Anas ra berkata, Abu Thalhah hendak melamr Ummu Sulaim. Ketika itu dia belum masuk islam. Ummu Sulaim berkata, “Wahai Abu Thalhah, tidaklah kau tahu bahwa tuhan yang sembah itu tumbuhan dari dalam bumi?” ia menjawa, “Ya”, Ummu Sulaim berkata, “bagaimana bisa engkau hendak memperistri diriku, sedang kau tak seagama denganku, kau boleh memperistriku jika kamu masuk Islam, karena itu mahar yang saya inginkan tidak yang lain.”
Abu Thalhah pun menyanggupinya masuk Islam, penyebab masuk Islmanya Abu Thalhah ini adalah karena Abu Thalhah kembali kepada kesucian fitrahnya, di satu sisi karena kecerdikan Ummu Sulaim dalam berdakwah di sisi yang lain.

8.  Dakwah Mush Ab Bin Umair Dan As’ad Bin Zararah Kepada Usaid Bin Hudhair
Ibnu Ishaq menyebutkan dari Abdullah bin Abu Bakar bin Muhammad bin amru bin Hazm dan lainnya, bahwa As’ad bin Zararah keluar bersama Mush’ab bin Umair menuju rumah Bani Abdil Asyhal dan rumah bin Mu’adz. Mereka berdua memasuki rumah itu dari arah dinding samping dekat sebuah sumur yang bernama sumur Maraq. Mereka duduk-duduk di samping dinding itu, berkumpul bersama orang-orang yang telah masuk Islam.
Sa’ad berkata kepada Usaid, “Wahai Usaid, segeralah engkau temui kedua pemuda yang mendatangi kampung kita untuk memperdaya orag-orang yang lemah di antara kita. Usir keduanya dan jangan diperkenankan mendatangi kampung kita. Kalau seandainya tidak ada As’ad bin Zararah, tentu aku akan melakukannya sendiri.”
Usaid pergi untuk menemui Mus’ab. Ketika melihatnya, As’ad berkata kepada Mush’ab, “Ini tokoh kaumnya, ia mendatangimu sekarang, maka berhati-hatilah.”. Muhs’ab berkata, “kalau dia mau duduk tnentu aku akan berbicara dengannya”. Usaid berdiri di antara keduanya sambil marah, “Apakah kau datang kesini  hendak memperdaya orangorang lemah di antara kami? Cepat pergi dari sini kalau kau ingin hidup!” Mush’ab berkata, “Duduklah sejenak dan dengarka, kalau kau senang kau bisa menerimanya, kalau tidak kau bisa menolaknya.”
Lalu Mush’ab membaca Al-Qur’an dan menjelaskan Islam kepadanya. Usaid berkata, “Sungguh indah kata-kata itu (Al-Qur’an), bagaimana caranya bau bisa memasuki agama ini?.” Mush’ab pun menceritakan bagaimana caranya. Setelah mengetahui caranya Usaid pun segera melakukannya bangkit untuk mandi menyucikan dirinya dan pakaiannya, kemudian mengucapkan syahadat, lalu shalat dua rakaat.






9.  Dakwah Mush’ab Bin Umair dan Usaid Bin Hudhair Kepada Sa’ad bin Muadz
Ibnu Ishaq menyebutkan, ketika Usaid bin Hudhair memeluk Islam, ia berkata kepada Mush’ab dan As’ad, “Dibelakangku ada seseorang yang kalau dia mengikutimu (memeluk Islam) tentu seluruh kaumnya akan mengikutimu pula. Aku akan mengutusnya untuk menemuimu sekarang. Dia adalah Sa’ad bin Muadz.” Usaid kemudian mengambil panahnya dan segera menemui Sa’ad beserta kaumnya yang tengah duduk-duduk di dalam sebuah rapat terbuka. Ketika Sa’ad melihatnya, langsung berkata, “Wahai kaumku, sungguh Usaid telah datang kepadamu dengan mimik wajah yang berbeda dengan ketika dia berangkat tadi.”
Usaid pun menceritakan apa yang telah terjadi dan dia lakukan tadi di sana. Mush’ab berkata kepada Sa’ad, “Duduklah dan dengarkan. Aklau kau memandangnya baik kau bisa menerimanya. Dan kalau kau memandangnya buruk kau bisa menolaknya.” Sama seperti yang dilakukan oleh Mush’ab saat menasehati Usaid. Mush’ab lalu menjelaskan dan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Musa bin Uqbah menyebutkan bahwa Mush’ab membacakan awal-awal surat Az-Zukhruf dan demi Allah di wajahnya tampak cahaya Islam yang tengah memancar sebelum ia berbicara. Dan Sa’ad pun masuk Islam dengan cara yang sama seperti Usaid yaitu mandi terlebih dahulu untuk bersuci lalu bersyahadat dan shalat dua rakaat.
Sebab masuk Islamnya Usaid bin Hudhair dan Sa’ad bin Mu’adz dengan bentuk seperti itu barangkali karena hikmah dan kecerdikan Mush’ab bin Umair dan As’ad bin Zararah, serta karena Sa’ad dan Usaid menggunakan akalnya dan memenuhi panggilan fitrahnya.

10.            Dakwah Nabi SAW Kepada Dhamad
Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, ia berkata, “Dhamad datang ke Makkah. Dia adalah orang yang berasal dari kampung Azad Syanu’ah. Ia datang untuk membuktikan kabar angin. Ia mendengar dari penduduk Makkah bahwa Muhammad gila. Ia kemudian bertanya, ‘Mana orang itu (Muhammad)? Barangkali Allah akan menyembuhkan gilanya lewat aku.”
“aku adalah ahli dalam membaca mantra, aku banyak menyembuhkan orang yang sakit bahkan sakit jiwa atau gila dan Allah akan menyembuhkan lewat tanganku siapa saja yang dikehendaki, oleh karena itu marilah saya obati.”
Kemudian Rasulullah berkata, “Segala puji bagi Allah. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, niscaya tak seorang pun yang akan bisa menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan oleh-Nya, niscaya tak seorang pun yang akan bisa menunjukinya. Saya bersaksi bahwa tiada Ilah kecuali Allah saja yang tiada sekutu baginya.” Rasulullah mengucapkan kata ini hingga tiga kali. Dankata itu mengejutkan Dhamad, dan Dhamad pun masuk Islam.
Barangkali sebab masuk Islamnya Dhamad dengan secept ini adalah karena kesucian fitrah dan kebersihan akalnya, serta karena hikmah dakwah dari Rasulullah saw dan kepintaran beliau di dalam memilih kalimat-kalimat yang diperdengarkan kepadanya.



































Identitas Buku




Judul Buku                 : Dakwah Fardiyah (Pendekatan Personal Dalam Dakwah)

Nama Pengarang       : Dr. Sayid Muhammad Nuh

Penerbit                     : Daarul Wafa’, Al-Mansurah, Mesir dan ERA INTERMEDIA

Tahun Terbit             : 2004

Tempat Terbit          : Surakarta

Jumlah Halaman       : 160 halaman

Ukuran Buku              : 12,5 cm  x 19,5 cm


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar